GURU
SANG PELITA
Fajar
menyingsing menyambut pagi. Langit pun mulai terang benderang. Seketika sinar
mentari menyebar ke seluruh pelosok negeri. Seorang anak laki-laki berambut
ikal berjambul merah berjalan memasuki gerbang sekolah SDN 1 Lukulo. Ia Bernama
Odon. Seperti biasanya, ia terlambat datang ke sekolah.
Saat
Odon hendak memasuki ruang kelas 5, ia terkejut karena pak guru sudah berdiri
tepat di balik pintu.
“Kamu
terlambat lagi, Don. Lihatlah! Sudah jam berapa sekarang?” tanya pak Indra
dengan suara lantang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB.
“Maaf,
Pak. Saya bangun kesiangan,” Jawab Odon lirih dengan kepala menunduk.
“Kapan
kamu bangun pagi? Alasannya selalu bangun kesiangan,” kata Pak Indra.
Pak
Indra menghukum Odon seperti biasanya yaitu menyuruhnya berdiri di depan kelas
sampai waktu istirahat. Kemudian bel tanda istirahat berbunyi. Odon yang sudah
terbebas dari hukuman Pak Indra segera melesat cepat menghampiri temannya yang
bernama Ali.
“Mana
jatahku, Al?” tanya Odon kepada Ali.
“Tapi,”
jawab Ali.
“Tapi
apa?” bentak Odon.
“Aku
hanya diberi uang saku Rp 5.000,00 untuk membeli buku, Don,” jawab Ali.
“Ah,
kamu banyak alasan!” bentak Odon.
Odon
pun marah dan memukul Ali. Ia menarik lengan Ali dengan kuat sampai Ali
terjatuh. Odon langsung mengambil uang di saku Ali dengan paksa.
Begitulah
Si Odon yang terkenal bandel. Ia sering membuat gaduh dan sering berkelahi
dengan teman-temannya. Setiap hari datang sekolah terlambat dan berbuat onar
sehingga sering mendapatkan hukuman dari Pak Indra. Sampai akhirnya suatu saat
Pak Indra berpindah tugas mengajar di sekolah yang baru sehingga tugas mengajar
di kelas 5 digantikan oleh guru baru.
Namanya Bu Tini. Ia masih muda, berparas cantik, dan bersuara lembut.
Pagi
hari yang cerah, Bu Tini memasuki ruang kelas 5 untuk pertama kali. Ia
memperkenalkan diri kepada semua siswa. Matanya mencermati siswanya satu per
satu. Pandangannya terpusat pada tempat duduk kosong di pojok belakang ruangan.
Meja dan kursi yang terletak menyendiri, terpisah dari deretan yang lain.
“Itu
tempat duduk siapa, Nak?” tanya Bu Tini.
“Odon,
Bu,” jawab anak-anak kompak.
“Dimana
dia sekarang?” tanya Bu Tini lagi.
“Pasti
dia datang terlambat lagi, Bu,” sahut Ali yang duduk di bangku paling depan.
“Mengapa
tempat duduknya di sini sendirian?” tanya Bu Tini penasaran.
“Biar
dia tidak mengganggu teman-teman yang lain, Bu,” jawab Ali.
Ali
menceritakan sikap Odon yang sering meminta uang sakunya. Ada juga siswa yang
mengadu kalau kemarin baru berkelahi dengan Odon. Ada pula siswa yang mengadu
kalau ia selalu diejek Odon. Ruang kelas rame riuh dengan aduan anak-anak
tentang sikap Odon.
Tiba-tiba
suasana kelas kembali hening. Bu Tini merasa heran. Ia menoleh ke arah pintu.
Benar saja Odon telah berdiri di depan kelas. Bu Tini berjalan perlahan
menghampiri Odon yang menunduk.
“Selamat
pagi, Nak! Silakan duduk!” sapa Bu Tini sambil tersenyum.
Sapaan
lembut Ibu Guru masih terdengar asing di telinga Odon.
“Selamat
pagi, Bu! Terimakasih,” jawab Odon lirih.
Sungguh
di luar dugaan Odon. Ibu Guru malah melempar senyum padanya. Ibu guru juga
menyuruhnya menggeser tempat duduknya agar sejajar dengan teman-teman yang
lain. Sehingga Odon sudah tidak duduk terasing lagi di kelas.
Malam
semakin larut. Odon bersiap-siap untuk tidur di kamarnya. Kejadian pagi tadi
masih terus terlintas di benaknya meskipun ia sudah mencoba memejamkan matanya.
Pikirannya bertanya-tanya. Mengapa Ibu Guru tersenyum padanya? Mengapa Ibu Guru
tidak marah padahal dia sudah datang terlambat? Mengapa dia boleh duduk bersama
teman-teman yang lain? Padahal dulu Pak Indra selalu menghukum, memarahi, dan
menyuruhnya duduk sendirian di pojok belakang kelas.
Esok
harinya, Odon bangun kesiangan seperti biasanya. Ia terlambat sekolah lagi. Ia
masuk kelas dengan ragu-ragu. Apakah ibu guru akan bersikap ramah seperti
kemarin? Bahkan ia belum tahu nama ibu guru tersebut karena kemarin melewatkan
waktu saat perkenalan.
“Maaf,
Bu, saya datang terlambat!” ucap Odon. Ia tidak lagi menunduk karena ingin
melihat ekspresi wajah ibu gurunya.
“Besok
berusahalah untuk datang lebih awal, ya, Nak! Ibu yakin kamu pasti bisa,” jawab
Bu Tini dengan tersenyum.
Hati
Odon tersentuh. Baru kini ada sosok guru yang ramah padanya.
“O,
Namanya Bu Tini Faiza,” batin Odon setelah melihat papan nama di baju Bu Tini.
Kegiatan
pembelajaran pun berlangsung dengan lancar. Odon selalu memperhatikan Bu Tini
saat mengajar meskipun tidak menyimak materi pelajarannya. Padahal biasanya
Odon selalu gaduh dan ribut sendiri. Odon kagum dengan kepribadian Bu Tini. Tak
hanya wajahnya yang cantik, hatinya pun baik. Tutur katanya saat mengajar
selalu mengandung nasihat kebaikan.
Siang
hari sepulang sekolah, Odon pergi ke tepi sungai yang tak jauh dari rumahnya.
Sudah menjadi aktivitasnya sehari-hari ikut menambang pasir sungai bersama
pamannya. Setelah ayahnya meninggal, ia ikut menambang pasir untuk menambah
pemasukan keluarga. Ibunya hanya bekerja sebagai penjual tempe yang hasilnya
tak seberapa.
“Don,
cepatlah pulang! Ada Ibu Guru di rumah,” panggil Ibu Odon dari kejauhan.
“Pasti
Bu Tini,” tebak Odon.
“Kamu
nakal lagi di sekolah, ya, Don? Sampai Ibu Guru datang ke rumah. Bisanya
membuat malu Ibu,” kata Ibu Odon sambil menjewer telinga anaknya.
“Ampun,
Bu. Jangan keras-keras nanti telingaku sakit!” pinta Odon.
Ibu
Odon tak henti-hentinya menjewer telinga Odon sampai memerah. Sesampainya di
rumah, terlihat Bu Tini sedang duduk di teras rumah. Penampilannya santai
karena beliau tidak mengenakan seragam dinas. Bu Tini menyapa Odon dan ibunya
dengan senyum khasnya.
“Sini
duduk di samping, Ibu, Nak!” pinta Bu Tini.
Kemudian
Odon duduk di samping Bu Tini didampingi ibunya.
“Iya,
Bu. Maafkan semua kesalahanku!” ucap Odon sedikit gemetar.
“Tidak
perlu takut. Ibu hanya ingin berkunjung ke rumahmu,” ucap Bu Tini.
Bu
Tini mengawali pembicaraannya dengan bertanya tentang kegiatan Odon
sehari-hari, mulai dari bangun tidur sampai berangkat sekolah. Beliau
mencermati setiap jawaban Odon untuk mengetahui kemungkinan penyebab keterlambatannya
berangkat sekolah dan alasan kenakalannya di sekolah. Kemungkinan Odon membantu
ibunya membuat tempe sampai larut malam sehingga paginya ia bangun kesiangan
dan terlambat masuk sekolah. Kenakalan Odon bisa jadi karena ia kurang
mendapatkan perhatian dari orang tua dan orang-orang di sekelilingnya.
“Ibu
hanya ingin kamu berubah menjadi lebih baik demi masa depanmu, Nak!” ucap Bu
Tini di sela-sela perbincangan mereka.
“Lihatlah
lampu itu! Tahukah kamu, siapa yang pertama kali membuat lampu bisa menyala?”
tanya Bu Tini kepada Odon.
Odon
menggeleng. Bu Tini mulai menceritakan kisah Thomas Alfa Edison, sang penemu
lampu. Thomas Alfa Edison adalah seorang yang agak tuli dan bodoh. Gurunya
pernah menolaknya untuk mengajar dan mengatakannya bodoh. Namun, dengan
ketekunan dan kesungguhan sehingga ia berhasil menciptakan lampu yang sampai
saat ini masih digunakan dan bermanfaat bagi manusia di seluruh dunia.
“Kamu
lebih sempurna dari Thomas Alfa Edison. Ibu yakin kamu bisa menjadi anak yang
baik, pintar, dan berguna,” ucap Bu Tini.
“Mungkin
sekarang kamu merasa belum butuh belajar. Tetapi yakinlah jika kamu besar
nanti, kamu akan merasakan manfaat dari belajar. Berusahalah sebelum
terlambat!” tambah Bu Tini menyemangati Odon yang mulai menangis. Ibu Odon
memeluk anak semata wayangnya.
“Maafkan
Ibu, Don! Ibu sering memarahimu. Ibu banyak menuntutmu untuk bekerja membantu
Ibu,” ucap Ibu Odon dengan mata berkaca-kaca.
“Odon
juga minta maaf, Bu. Odon selalu membuat Ibu malu,” ucap Odon sesenggukan.
Odon
juga minta maaf kepada Bu Tini. Odon berjanji untuk menjadi anak yang baik dan
bersungguh-sungguh dalam belajar.
Hari
demi hari Odon lalui dengan suka cita. Ia mulai mengatur waktunya untuk sekolah
dan membantu ibunya. Ia mulai bangun pagi dan menyiapkan buku sekolah sesuai
jadwal setiap harinya. Ia berhenti menambang pasir dan menggantinya dengan
kegiatan bermanfaat lainnya. Membantu ibu tetap dilakukannya dengan membawa
kripik tempe, mendoan, dan tempe bacem buatan ibunya untuk
dititipkan di kantin sekolah. Meskipun ia masih kesulitan memahami isi
pelajaran di sekolah, ia tetap berusaha mempelajarinya kembali saat di rumah.
Rambutnya yang berjambul merah, kini sudah dicukur rapi seperti pak tentara.
Berharap suatu hari ia bisa menjadi tentara dan membanggakan ibunya.
“Terimakasih,
Bu Tini! Kau telah membukakan mata hatiku. Kau adalah Guru sang Pelita
hidupku,” ucap Odon dalam hati dengan bangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar