Selamat Belajar

" Selamat Datang di SUWANTI EDUKASI, media informasi tentang pendidikan, keluarga, dan ide kreatif seputar kehidupan sehari-hari "

Jumat, 03 Oktober 2025

CERITA PENDEK TEMA PENDIDIKAN

GURU SANG PELITA

 Karya : Suwanti


Di sebuah kota kecil di Kebumen, Jawa Tengah, terdapat bangunan sekolah dasar yang tidak cukup megah bernama SDN 1 Lukulo. Letaknya di tepi sungai yang sudah mulai tergerus erosi. Bangunan yang sudah mengalami rehabilitasi beberapa kali namun belum terlihat mewah, tidak seperti sekolah-sekolah di pusat kota.

Fajar menyingsing menyambut pagi. Langit pun mulai terang benderang. Seketika sinar mentari menyebar ke seluruh pelosok negeri. Seorang anak laki-laki berambut ikal berjambul merah berjalan memasuki gerbang sekolah SDN 1 Lukulo. Ia Bernama Odon. Seperti biasanya, ia terlambat datang ke sekolah.

Saat Odon hendak memasuki ruang kelas 5, ia terkejut karena pak guru sudah berdiri tepat di balik pintu.

“Kamu terlambat lagi, Don. Lihatlah! Sudah jam berapa sekarang?” tanya pak Indra dengan suara lantang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB.

“Maaf, Pak. Saya bangun kesiangan,” Jawab Odon lirih dengan kepala menunduk.

“Kapan kamu bangun pagi? Alasannya selalu bangun kesiangan,” kata Pak Indra.

Pak Indra menghukum Odon seperti biasanya yaitu menyuruhnya berdiri di depan kelas sampai waktu istirahat. Kemudian bel tanda istirahat berbunyi. Odon yang sudah terbebas dari hukuman Pak Indra segera melesat cepat menghampiri temannya yang bernama Ali.

“Mana jatahku, Al?” tanya Odon kepada Ali.

“Tapi,” jawab Ali.

“Tapi apa?” bentak Odon.

“Aku hanya diberi uang saku Rp 5.000,00 untuk membeli buku, Don,” jawab Ali.

“Ah, kamu banyak alasan!” bentak Odon.

Odon pun marah dan memukul Ali. Ia menarik lengan Ali dengan kuat sampai Ali terjatuh. Odon langsung mengambil uang di saku Ali dengan paksa.

Begitulah Si Odon yang terkenal bandel. Ia sering membuat gaduh dan sering berkelahi dengan teman-temannya. Setiap hari datang sekolah terlambat dan berbuat onar sehingga sering mendapatkan hukuman dari Pak Indra. Sampai akhirnya suatu saat Pak Indra berpindah tugas mengajar di sekolah yang baru sehingga tugas mengajar di kelas 5 digantikan oleh  guru baru. Namanya Bu Tini. Ia masih muda, berparas cantik, dan bersuara lembut.

Pagi hari yang cerah, Bu Tini memasuki ruang kelas 5 untuk pertama kali. Ia memperkenalkan diri kepada semua siswa. Matanya mencermati siswanya satu per satu. Pandangannya terpusat pada tempat duduk kosong di pojok belakang ruangan. Meja dan kursi yang terletak menyendiri, terpisah dari deretan yang lain.

“Itu tempat duduk siapa, Nak?” tanya Bu Tini.

“Odon, Bu,” jawab anak-anak kompak.

“Dimana dia sekarang?” tanya Bu Tini lagi.

“Pasti dia datang terlambat lagi, Bu,” sahut Ali yang duduk di bangku paling depan.

“Mengapa tempat duduknya di sini sendirian?” tanya Bu Tini penasaran.

“Biar dia tidak mengganggu teman-teman yang lain, Bu,” jawab Ali.

Ali menceritakan sikap Odon yang sering meminta uang sakunya. Ada juga siswa yang mengadu kalau kemarin baru berkelahi dengan Odon. Ada pula siswa yang mengadu kalau ia selalu diejek Odon. Ruang kelas rame riuh dengan aduan anak-anak tentang sikap Odon.

Tiba-tiba suasana kelas kembali hening. Bu Tini merasa heran. Ia menoleh ke arah pintu. Benar saja Odon telah berdiri di depan kelas. Bu Tini berjalan perlahan menghampiri Odon yang menunduk.

“Selamat pagi, Nak! Silakan duduk!” sapa Bu Tini sambil tersenyum.

Sapaan lembut Ibu Guru masih terdengar asing di telinga Odon.

“Selamat pagi, Bu! Terimakasih,” jawab Odon lirih.

Sungguh di luar dugaan Odon. Ibu Guru malah melempar senyum padanya. Ibu guru juga menyuruhnya menggeser tempat duduknya agar sejajar dengan teman-teman yang lain. Sehingga Odon sudah tidak duduk terasing lagi di kelas.

Malam semakin larut. Odon bersiap-siap untuk tidur di kamarnya. Kejadian pagi tadi masih terus terlintas di benaknya meskipun ia sudah mencoba memejamkan matanya. Pikirannya bertanya-tanya. Mengapa Ibu Guru tersenyum padanya? Mengapa Ibu Guru tidak marah padahal dia sudah datang terlambat? Mengapa dia boleh duduk bersama teman-teman yang lain? Padahal dulu Pak Indra selalu menghukum, memarahi, dan menyuruhnya duduk sendirian di pojok belakang kelas.

Esok harinya, Odon bangun kesiangan seperti biasanya. Ia terlambat sekolah lagi. Ia masuk kelas dengan ragu-ragu. Apakah ibu guru akan bersikap ramah seperti kemarin? Bahkan ia belum tahu nama ibu guru tersebut karena kemarin melewatkan waktu saat perkenalan.

“Maaf, Bu, saya datang terlambat!” ucap Odon. Ia tidak lagi menunduk karena ingin melihat ekspresi wajah ibu gurunya.

“Besok berusahalah untuk datang lebih awal, ya, Nak! Ibu yakin kamu pasti bisa,” jawab Bu Tini dengan tersenyum.

Hati Odon tersentuh. Baru kini ada sosok guru yang ramah padanya.

“O, Namanya Bu Tini Faiza,” batin Odon setelah melihat papan nama di baju Bu Tini.

Kegiatan pembelajaran pun berlangsung dengan lancar. Odon selalu memperhatikan Bu Tini saat mengajar meskipun tidak menyimak materi pelajarannya. Padahal biasanya Odon selalu gaduh dan ribut sendiri. Odon kagum dengan kepribadian Bu Tini. Tak hanya wajahnya yang cantik, hatinya pun baik. Tutur katanya saat mengajar selalu mengandung nasihat kebaikan.

Siang hari sepulang sekolah, Odon pergi ke tepi sungai yang tak jauh dari rumahnya. Sudah menjadi aktivitasnya sehari-hari ikut menambang pasir sungai bersama pamannya. Setelah ayahnya meninggal, ia ikut menambang pasir untuk menambah pemasukan keluarga. Ibunya hanya bekerja sebagai penjual tempe yang hasilnya tak seberapa.

“Don, cepatlah pulang! Ada Ibu Guru di rumah,” panggil Ibu Odon dari kejauhan.

“Pasti Bu Tini,” tebak Odon.

“Kamu nakal lagi di sekolah, ya, Don? Sampai Ibu Guru datang ke rumah. Bisanya membuat malu Ibu,” kata Ibu Odon sambil menjewer telinga anaknya.

“Ampun, Bu. Jangan keras-keras nanti telingaku sakit!” pinta Odon.

Ibu Odon tak henti-hentinya menjewer telinga Odon sampai memerah. Sesampainya di rumah, terlihat Bu Tini sedang duduk di teras rumah. Penampilannya santai karena beliau tidak mengenakan seragam dinas. Bu Tini menyapa Odon dan ibunya dengan senyum khasnya.

“Sini duduk di samping, Ibu, Nak!” pinta Bu Tini.

Kemudian Odon duduk di samping Bu Tini didampingi ibunya.

“Iya, Bu. Maafkan semua kesalahanku!” ucap Odon sedikit gemetar.

“Tidak perlu takut. Ibu hanya ingin berkunjung ke rumahmu,” ucap Bu Tini.

Bu Tini mengawali pembicaraannya dengan bertanya tentang kegiatan Odon sehari-hari, mulai dari bangun tidur sampai berangkat sekolah. Beliau mencermati setiap jawaban Odon untuk mengetahui kemungkinan penyebab keterlambatannya berangkat sekolah dan alasan kenakalannya di sekolah. Kemungkinan Odon membantu ibunya membuat tempe sampai larut malam sehingga paginya ia bangun kesiangan dan terlambat masuk sekolah. Kenakalan Odon bisa jadi karena ia kurang mendapatkan perhatian dari orang tua dan orang-orang di sekelilingnya.

“Ibu hanya ingin kamu berubah menjadi lebih baik demi masa depanmu, Nak!” ucap Bu Tini di sela-sela perbincangan mereka.

“Lihatlah lampu itu! Tahukah kamu, siapa yang pertama kali membuat lampu bisa menyala?” tanya Bu Tini kepada Odon.

Odon menggeleng. Bu Tini mulai menceritakan kisah Thomas Alfa Edison, sang penemu lampu. Thomas Alfa Edison adalah seorang yang agak tuli dan bodoh. Gurunya pernah menolaknya untuk mengajar dan mengatakannya bodoh. Namun, dengan ketekunan dan kesungguhan sehingga ia berhasil menciptakan lampu yang sampai saat ini masih digunakan dan bermanfaat bagi manusia di seluruh dunia.

“Kamu lebih sempurna dari Thomas Alfa Edison. Ibu yakin kamu bisa menjadi anak yang baik, pintar, dan berguna,” ucap Bu Tini.

“Mungkin sekarang kamu merasa belum butuh belajar. Tetapi yakinlah jika kamu besar nanti, kamu akan merasakan manfaat dari belajar. Berusahalah sebelum terlambat!” tambah Bu Tini menyemangati Odon yang mulai menangis. Ibu Odon memeluk anak semata wayangnya.

“Maafkan Ibu, Don! Ibu sering memarahimu. Ibu banyak menuntutmu untuk bekerja membantu Ibu,” ucap Ibu Odon dengan mata berkaca-kaca.

“Odon juga minta maaf, Bu. Odon selalu membuat Ibu malu,” ucap Odon sesenggukan.

Odon juga minta maaf kepada Bu Tini. Odon berjanji untuk menjadi anak yang baik dan bersungguh-sungguh dalam belajar.

Hari demi hari Odon lalui dengan suka cita. Ia mulai mengatur waktunya untuk sekolah dan membantu ibunya. Ia mulai bangun pagi dan menyiapkan buku sekolah sesuai jadwal setiap harinya. Ia berhenti menambang pasir dan menggantinya dengan kegiatan bermanfaat lainnya. Membantu ibu tetap dilakukannya dengan membawa kripik tempe, mendoan, dan tempe bacem buatan ibunya untuk dititipkan di kantin sekolah. Meskipun ia masih kesulitan memahami isi pelajaran di sekolah, ia tetap berusaha mempelajarinya kembali saat di rumah. Rambutnya yang berjambul merah, kini sudah dicukur rapi seperti pak tentara. Berharap suatu hari ia bisa menjadi tentara dan membanggakan ibunya.

“Terimakasih, Bu Tini! Kau telah membukakan mata hatiku. Kau adalah Guru sang Pelita hidupku,” ucap Odon dalam hati dengan bangga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar