“PENYESALAN YANG BELUM TERLAMBAT”
Karya: Suwanti
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Akan tetapi perseteruan
antara sang ibu dan anaknya, Qais masih tetap berlangsung. Hal ini berawal dari
ketidakpuasan Qais pada keputusan ibunya mengenai pembagian warisan dengan adik
semata wayangnya, Tantri.
”Sudahlah Bu, Ibu jangan selalu pilih kasih kepada Tantri. Harusnya aku
sebagai anak laki-laki yang mendapat jatah warisan lebih banyak,” ucap Qais
dengan nada keras.
”Bukan bagitu Nak, maksud ibu ingin bersikap adil kepada kalian,” jawab
ibunya lirih.
”Ibu tidak usah mencari alasan. Pokoknya aku harus mendapatkan warisan
lebih banyak daripada Tantri,” kata Qais memotong pembicaraan ibunya.
Terlihat ibunya hendak mengucapkan sesuatu, mungkin beliau mau
memberi penjelasan. Akan tetapi Qais tak menghiraukannya.
Perselisihan Qais dan ibunya, semakin lama semakin memanas. Berkali-kali
sang ibu mencoba untuk menjelaskan maksud keputusannya akan tetapi Qais selalu
menghindar dan tak memperdulikan ibunya. Qais hampir tak pernah menyapa ibunya
walaupun mereka tinggal dalam satu rumah.
Hati sang Ibu sangat sakit, melihat sikap anak sulungnya. Untuk
menghilangkan kejenuhan dan sakit hatinya, sang ibu sering pergi ke rumah anak
bungsunya. Sang ibu merasa bahwa Tantri merupakan satu-satunya
tempat untuk mencurahkan hatinya.
Pada suatu hari, sang ibu berkunjung kembali ke rumah Tantri. Baru saja
Tantri membukakan pintu, Tantri terkejut melihat ibunya yang terlihat lemas
dengan berurai air mata.
”Tantri, abangmu...,” ratap ibu sambil menahan isak tangisnya.
”Apa yang terjadi dengan Bang Qais, Bu?” tanya Tantri.
”Itu Nduk... Abangmu kecewa dengan sikap ibu,” jawab ibu sambil mendekap
tubuh Tantri. Suami Tantri, Farid, yang melihat kejadian itu, segera menghampiri istri dan
ibu mertuanya.
“Apa yang terjadi
pada Bang Qais, Bu?” sela Farid.
“Qais kecewa dengan keputusan ibu. Dia sudah tidak memperdulikan ibu lagi,”
jawab ibu sambil menangis tersedu.
“Ibu sabar saja, ya! Mungkin itu hanya perasaan ibu saja,” ucap Farid
berusaha menghibur ibu mertuanya.
“Iya, Bu. Tenangkan hati ibu dahulu! Nanti ibu bisa menceritakan semuanya
pada kami,” sambung Tantri.
Tidak lama kemudian, sang ibu menceritakan semua inti permasalahannya.
Beliau juga menjelaskan alasan mengapa pembagian warisan sama rata. Hal itu dikarenakan
sang ibu berharap Qais mau tetap tinggal bersamanya sampai akhir hayatnya.
Jadi, Qais akan mendapat tambahan warisan berupa rumah yang menjadi tempat
tinggal sekarang.
Tantri dan farid sangat tersentuh mendengarkan cerita ibunya. Mereka tahu
bahwa maksud ibunya adalah untuk kebaikan bersama. Mereka ingin kesalahpahaman
antara abangnya dangan sang ibu bisa berakhir.
Akhirnya, Farid dan Tantri menemui abangnya untuk menjelaskan duduk
permasalahan mengenai kesalahpahaman yang terjadi. Percakapan berawal ketika mereka
berkunjung ke kantor Qais saat jam
istirahat.
“Bang, bisakah Tantri minta waktu Abang sebentar, untuk kita berbicara?”
pinta Tantri.
“Iya, Bang. Mari kita bicara di kantin saja, biar suasananya tambah
nyaman,” sambung Farid.
“Ya, baiklah,” jawab Qais.
Akhirnya, mereka bertiga pergi menuju kantin. Ketiganya berbincang-bincang
mengenai permasalahan ibu.
“Maaf, Bang. Bukannya saya mau ikut campur urusan Abang. Kalau saya boleh
tahu, sebenarnya apa yang sedang terjadi antara Abang dan ibu?” kata Farid
membuka pembicaraan.
“Oh, begitu. Ternyata ibu sudah menceritakan semuanya padamu,” jawab Qais
ketus.
“Tidak demikian, Bang. Ibu terlihat sangat tertekan. Harusnya Abang tidak perlu
membesar-besarkan masalah warisan. semuanya bisa kita musyawarahkan lagi,” sambung
Tantri.
“Sudahlah. Kalian tidak usah ikut campur urusanku. Aku tahu kalau ibu
sangat pilih kasih padamu,” jawab Qais dengan nada keras.
“Jangan berprasangka buruk begitu, Bang. Ibu sebenarnya sangat sayang pada
kita, termasuk Abang. Dengarkan dulu penjelasan Tantri!” pinta Tantri memelas.
“Sudahlah, kau tidak usah membela ibu. Sia-sia saja walau kau jelaskan
beribu kali padaku. Aku tak akan percaya karena aku sudah terlanjur sakit hati
pada ibu,” jawab Qais sambil berlalu pergi meninggalkan Tantri dan Farid.
Berulang kali Tantri memanggil-manggil abangnya tetapi Qais tetap saja
berlalu. Tantri kecewa dengan sikap abangnya. Bagaimana pun usaha Tantri dan
Farid untuk membujuk abangnya, tetap saja hasilnya masih sia-sia. Mereka hanya
bisa berdoa semoga abangnya cepat sadar atas kesalahpahaman ini.
Pertemuan Qais dengan adiknya, membuatnya semakin kalut dalam kebencian.
Dia malah berprasangka buruk kalau Tantri dan Farid sudah sekongkol dengan ibunya.
Prasangka tersebut membuat Qais semakin benci pada ibunya. Hingga
suatu saat Qais berencana untuk menyingkirkan ibunya agar tidak ada lagi
penghalang untuk dia bisa mendapatkan warisan lebih banyak.
Qais ingin menyingkirkan ibunya dengan cara halus sehingga tidak
menimbulkan curiga orang lain. Untuk memperlancar rencananya, Qais meminta
bantuan kepada Ki Anom, guru spiritualnya.
“Ki, bisakah Ki Anom membantuku?” tanya Qais.
“Memang apa yang bisa Aki bantu?” jawab Ki Anom berbalik bertanya kepada
Qais.
“Begini Ki. Aku ingin ibuku meninggal tetapi jangan terlihat terbunuh seperti
halnya meninggal dikarenakan sakit. Jadi, tidak akan ada orang yang curiga padaku,”
jawab Qais.
“Memangnya ada masalah apa antara kamu dengan ibumu sampai-sampai kamu
mempunyai pikiran seperti itu?” tanya Ki Anom.
Qais pun menceritakan semua permasalahan yang dialaminya. Dia sangat kecewa
dengan sikap ibunya. Ki Anom yang mendengar ceritanya, hanya bisa tersenyum
geli. Ki Anom adalah guru yang sangat bijaksana sehingga dia menganggap
kebencian Qais pada ibunya hanya dikarenakan efek emosinya sendiri.
“Mengapa Ki Anom tersenyum mendengar penuturanku?” tanya Qais dengan muka
keheranan.
“Tidak apa-apa. Aki tahu, kamu hanya terbakar emosi,” jawab Ki Anom.
“Ki Anom tidak perlu menebak-nebak perasaanku. Berilah saya cara yang tepat untuk melancarkan rencanaku!”
jawab Qais memantapkan niatnya.
Ki Anom terdiam sejenak. Dia mencari cara untuk bisa memberikan solusi yang
tidak akan merugikan siapapun. Akhirnya, Ki Anom memutuskan untuk memberikan
sebungkus serbuk, yang disangka Qais adalah racun. Namun sebenarnya serbuk itu
adalah gula halus.
Qais yang terdiam melihat bungkusan itu, langsung bertanya kepada Ki Anom,
“Apa sebenarnya isi bungkusan ini, Ki?” tanya Qais penasaran.
“Itu adalah serbuk yang bisa menyelesaikan permasalahanmu. Campurkan serbuk
itu ke dalam minuman teh hangat kemudian suguhkan pada ibumu!” jawab Ki Anom.
Qais terdiam sejenak mendengar penjelasan guru spiritualnya. Dia tak yakin
bisa menyuguhkan minuman pada ibunya karena dia tahu bahwa belakangan ini dia
sama sekali tak pernah memperhatikan ibunya. Jika tak ada angin, tak ada badai,
dia menyuguhkan minum, kemungkinan ibunya bertanya-tanya dan akan menganggap
itu suatu kejanggalan. Qais pun menanyakan solusi yang tepat kepada Ki Anom.
“Bagaimana caraku menyuguhkan minum, Ki? Sudah lama ini aku tak pernah
memperhatikan ibuku. Mungkin dia takkan percaya jika aku berubah sikap sehangat
itu,” tutur Qais.
“Itulah tantangan untukmu. Kau harus mendekati ibumu terlebih dahulu sampai
dia benar-benar merasa dekat dan percaya padamu.
“Baiklah. Aku akan mencobanya. Terima kasih banyak, Ki,” ucap Qais.
Sepulang dari rumah Ki Anom, Qais mencari segala kesempatan untuk bisa
mendekati ibunya. Hal itu ia lakukan untuk melancarkan rencananya. Baru saja ia
tiba di rumah, ia langsung berpura-pura minta maaf dengan mencium tangan
ibunya. Ibunya sempat tak percaya jika Qais bisa bersikap manis seperti itu.
“Qais minta maaf, Bu. Selama ini Qais tak pernah memperhatikan ibu karena
kesalah pahaman Qais,” ucap Qais dengan berpura-pura menangis di pangkuan
ibunya. Padahal di dalam hatinya, ia tertawa lebar karena berhasil menarik
simpati ibunya.
“Iya, Nak. Ibu sudah memaafkan semua kesalahanmu. Ibu juga minta maaf kalau
belum sempat menceritakan semuanya,” jawab Ibu sambil mengelus kepala Qais.
Sang ibu yang semula ragu dengan perhatian Qais, ingin membuang jauh-jauh
segala prasangka buruk mengenai anak sulungnya karena beliau sangat
menyayanginya.
Berhari-hari Qais berpura-pura manis di hadapan ibunya. Hingga pada suatu
malam, dia melaksanakan rencananya. Dia menyuguhi ibunya teh yang sudah diberi
serbuk yang disangka racun. Qais tertawa gembira di dalam hati setelah ibunya
meminum teh itu. Qais menyangka kalau umur ibunya tinggal beberapa hari lagi.
Keesokan harinya bertepatan dengan hari libur Qais. Sang ibu mendekati Qais
yang sedang duduk santai di teras rumah. Sang ibu mulai terbuka kepada Qais
bahwa alasannya membagi warisan sama banyak adalah demi kebaikan keluarganya.
Qais tampak pucat setelah mendengar penuturan ibunya bahwa rumah yang kini ia
tempati, kelak akan ibu berikan padanya. Hatinya sangat tersentuh dan mulai
menyadari kalau selama ini ibunya tak bersalah. Ia baru sadar bahwa selama ini
prasangkanya kepada sang ibu ternyata salah besar.
Malam sudah mulai larut tetapi Qais belum bisa memejamkan matanya. Ia
merasa sangat bersalah mengapa sampai hati ingin menyingkirkan ibunya. Matanya
berkaca-kaca dan tak terasa air matanya mulai membasahi pipinya. Ia memikirkan
nasib umur ibunya yang menurutnya tinggal beberapa hari lagi. Malam pun ia
lalui tanpa memejamkan mata.
Pagi-pagi buta, Qais berkunjung ke rumah Ki Anom. Ia terlihat sangat tergesa-gesa.
Sesampai di sana, ia langsung bersimpuh di hadapan Ki Anom.
“Ki, tolonglah aku!” ucap Qais sambil menitikkan air mata.
Ki Anom menjawab dengan nada santai, “Ada apa? Ceritakan dulu bagaimana
masalahmu!”
“Aku sudah berhasil meracuni ibuku. Berapa hari lagi ibuku hidup, Ki?”
tanya Qais dengan nada tersendat-sendat.
“Memang apa masalahmu? Bukankah itu yang kau harapkan?” ucap Ki Anom sambil
tertawa kecil.
“Itu memang harapanku dulu. Tetapi sekarang, aku telah menyadari
kesalahanku. Aku mohon berilah aku obat penawarnya, Ki! Aku sangat menyayangi
ibuku,” jawab Qais.
“Mengapa kau bisa berubah pikiran?” tanya Ki Anom.
Qais pun menceritakan perihal masalahnya. Ki Anom yang mendengarkan
penjelasan Qais, hanya tersenyum simpul.
“Umur ibumu bukan di tanganku atau pun serbuk yang telah kau berikan pada
ibumu. Umur manusia hanya Tuhan yang menentukan, termasuk umur ibumu,” jelas Ki
Anom.
Akhirnya, Ki Anom menjelaskan bahwa
serbuk yang disangka racun oleh Qais, sebenarnya hanyalah gula halus. Qais pun
sangat berterima kasih dan bersyukur atas kebijaksanaan Ki Anom dalam
memberikan solusi permasalahannya sehingga ia bisa kembali hidup rukun bersama
ibunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar